Sabtu, 06 Oktober 2012

TARI SORENG : Warisan Budaya dan Seni

Kesenian Tari Soreng merupakan kesenian asli masyarakat Jawa yang konon merupakan pengejawantahan babad atau cerita rakyat. Kesenian tersebut dimainkan dalam upacara adat atau hajatan besar yang terjadi. Kesenian Soreng yang merupakan kesenian yang diadopsi dari kisah Aryo Penangsang dan para prajuritnya. 
Kesenian Soreng sendiri idealnya minimal dimainkan oleh 10 sampai 12 orang penari laki-laki. Aryo Penangsang merupakan adipati Pati yang berperang merebut takhta kerajaan Demak, sepeninggal Sultan Tranggono. Aryo Penangsang tidak setuju kalau takhta kerajaan diwariskan ke Mas Karebet atau Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Tranggono. Mas Karebet mewarisi takhta kerajaan Demak, dan memindahkan ke istana Pajang. Sebagai raja kerajaan Pajang mas Karebet bergelar Sultan Hadiwijaya. Aryo Penangsang memiliki kesaktian yang mandraguna. Tunggangan Aryo Penangsang adalah kuda jantan tegar  yang diberi nama Gagak Rimang. 
sepenggal kisah yang bertutur melalui sebuah gerak tari yang energik, diiringi suara gending dan gendang yang bertalu ber irama.
Pada akhirnya Aryo Penangsang gugur setelah bertarung dengan Danang Sutawijaya yang merupakan putra angkat Sultan Hadiwijaya. Danang Sutawijaya sendiri akhirnya menjadi raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta dengan gelar Panembahan Senopati.  Konon kala itu, ketika tabuhan dimainkan dengan irama cepat tersebut bertalu berirama, sehingga mampu menyedot perhatian begitu banyak masyarakat.  Ratusan orang langsung berkumpul dalam tempo waktu beberapa menit. Kesenian Soreng sendiri merupakan kesenian yang cukup diminati seluruh masyarakat jawa, khususnya Jawa Tengah. Tua-muda, bahkan anak-anak tumpah ruah menyaksikkan kesenian tersebut. Gerakan unik diiringi musik yang rancak dan  dimainkan para penari Soreng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Sampai pada saat ini seluruh kisah yang terangkum, mampu dituangkan dalam sepenggal pertunjukan Tari Soreng. sebuah warisan budaya Jawa, berirama dan cukup sarat makna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar